• Batu Payung

    Batu Payung, Keindahan Tersembunyi di Balik Tebing Pantai Selatan Lombok

    Perhatian pemirsa berbagai stasiun televisi nasional, akhir-akhir ini kembali tercurah ke pulau Lombok. Semua itu terjadi, setelah stasiun – stasiun televisi tersebut gencar menayangkan iklan rokok Dunhill Mild, yang gambar iklannya memanfaatkan keindahan panorama “Batu Payung” di Pantai Tanjung Aan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

    Dalam tayangan iklan Dunhill Mild itu, sekelompok remaja terlihat sedang bermain-main di tepi pantai berkarang, menyaksikan keindahan gulungan ombak pantai selatan yang tinggi bergulung-gulung. Selain itu, juga ada seorang pemuda yang sedang memanggang ikan di atas api unggun, dan setelah matang dimakan bersama kelompoknya.

    Di sela tayangan tersebut, berkali-kali terlihat sebuah batu besar berbentuk seperti payung, atau cendawan (jamur) yang berdiri tegak di bawah tebing tepi pantai itu di shooting. Batu berbentuk seperti payung, setinggi sekitar 10 meter itulah yang rupanya menarik perhatian pemirsa televisi, karena bentuknya yang unik dan sangat indah.

    Pembicaraan tentang lokasi dimana pembuatan iklan Dunhill Mild yang sangat indah dan menakjubkan itupun menjadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai jejaring social seperti Facebook, Twiter, Blacberry Masanger, Yahoo Masanger, dan lainnya. Hanya dalam waktu yang singkat, informasi tentang keberadaan “Batu Payung” yang terletak di pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah bagian selatan itu tersebar melalui jaringan internet ke berbagai belahan dunia.

    Akibatnya, kini “Batu Payung” banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik local, domestic, maupun mancanegara. “Berkali-kali saya berwisata ke pantai Tanjung Aan, tetapi saya tidak pernah berkunjung ke Batu Payung. Meskipun masih dalam satu kawasan, dari pantai Tanjung Aan letaknya masih jauh, dan harus menyusuri pinggiran pantai berpasir, mendaki bukit, dan melewati pinggiran tebing yang terletak persis di pinggiran pantai. Tapi setelah melihat tayangan iklan Dunhill Mild, saya jadi penasaran, dan akhirnya berkunjung ke Batu Payung,” kata Ria Setyani, salah satu warga Perumnas, Kota Praya, Kabupaten Lombok Tengah, yang bersama temannya Ida Zulaeha, dijumpai penulis sedang berfoto di sekitar Batu Payung.

    Rasa penasaran serupa juga dialami Yoyok Handoyo, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, yang juga salah satu anggota club fotografer di Kota Pelajar (nama julukan bagi Yogyakarta) tersebut. “Begitu melihat tayangan iklan Dunhill Mild di televisi, saya langsung searching google dengan kata-kata kunci mulai dari kata “batu patung”, “batu jamur”, “batu tugu”, dan lainnya. Pencarian saya akhirnya membuahkan hasil ketika saya mengetik “batu payung”, dan muncullah berbagai keterangan tentang destinasi wisata yang ternyata ada di pulau Lombok ini,” ujarnya ketika berbincang dengan penulis.

    “Tanpa menunggu lama, begitu ada kesempatan liburan, saya segera berkunjung ke Lombok, dengan misi utama selain berwisata, juga hendak mengabadikan keindahan Batu Payung. Lihatlah hasil foto-foto yang saya ambil dari berbagai sisi, ada yang terlihat seperti gambar patung kepala manusia, gambar payung, atau cendawan, dan lainnya. Apalagi dibelakang Batu Payung juga terlihat panorama alam yang sangat cantik, ada pulau kecilnya, ombak bergulung-gulung, tebing, cipratan air di atas bebatuan, dan lainnya. Pokoknya semua gambar Batu Payung ini sangat menakjubkan,” sambung Yoyok.

    Sebelum menjadi iklan Dunhill Mild, dan ditayangkan di berbagai televisi, keberadaan Batu Payung tidak begitu di kenal oleh para wisatawan, bahkan warga Lombok sekalipun jarang yang mendengar. Hal ini wajar, karena untuk mencapai lokasi Batu Payung juga terbilang masih sulit. Dari Pantai Tanjung Aan, pengunjung harus berjalan ke arah timur sekitar 1 jam, menyusuri pantai berpasir merica, kemudian mendaki bukit, dan turun kembali ke pantai untuk menyusuri batu-batu di bawah tebing yang berbatasan langsung dengan air laut, dimana kalau air laut sedang pasang maka jalan ini juga tidak bisa dilalui.

    “Biasanya, jalur ini sangat disukai oleh para penghobi fotografi, karena medan yang dilalui menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah,” kata Dian Andayani, fotografer dari Mataram yang sering hunting gambar di Batu Payung.

    Kalau tidak ingin berlelah-lelah jalan kaki lanjut Dian, di pantai Tanjung Aan ada fasilitas perahu yang siap mengantarkan para wisatawan berkunjung ke Batu Payung, dengan waktu tempuh hanya sekitar 15 menit saja. “Biayanya lumayan mahal, carter bolak-balik Tanjung Aan – Batu Payung harganya sekitar Rp.150 ribu hingga Rp.200 ribu, tergantung kepintaran menawar. Saran saya, sebaiknya pergi rombongan (maksimal 10 orang) agar biaya bisa ditanggulangi bersama, sehingga murah,” ucap Dian.

    “Sebenarnya masih ada satu jalan lagi menuju ke Batu Payung yang jarang dilalui oleh para wisatawan, dan hanya diketahui oleh orang local, atau orang yang sering berkunjung ke Batu Payung saja, yaitu melalui pantai di Dusun Padau. Dusun nelayan ini berjarak sekitar 1 kilometer ke arah timur dari Tanjung Aan, melalui jalan beraspal, kemudian belok ke kanan menyusuri jalan tanah menuju perkampungan warga Dusun Padau yang terletak dipinggiran pantai. Parkir sepeda motor atau kendaraan roda empat di rumah-rumah penduduk. Dari lokasi ini, Batu Payung bisa dicapai hanya dengan waktu sekitar 25 menit saja dengan berjalan kaki menyusuri pantai ke arah barat,” jelas Dian seperti berbisik.

    Benar saja, ketika penulis mencoba membuktikan, ternyata jalan menuju Batu Payung lebih dekat di capai dari pinggiran pantai di Dusun Padau. “Sekarang banyak wisatawan yang berkunjung ke Batu Payung melalui Dusun Padau. Alhamdulillah, saya bisa memperoleh penghasilan lumayan dari jasa parkir kendaraan di halaman rumah saya,” ucap Inaq Tihal, warga Dusun Padau.

    Lantas, berapa biaya parkir kendaraan yang dititipkan di rumah Inaq Tihal? “Saya tidak menentukan biaya parkir, seikhlasnya pemberi saja. Yang jelas, setiap hari ada saja pengunjung yang parkir di halaman rumah saya,” sahut Inaq (ibu) yang memiliki 7 anak ini merasa bersyukur.

    Untuk diketahui, jarak dari Kota Mataram menuju Pantai Tanjung Aan (Batu Payung) sekitar 65 kilometer, dan bisa ditempuh sekitar 1 – 2 jam dengan kendaraan roda dua atau roda empat, tergantung kecepatan. Jalur pertama bisa melalui Mataram – Kediri – Praya – Bandara Internasional Lombok – Sengkol – Desa Sade – Pantai Kuta – Pantai Tanjung Aan – Batu Payung. Sedangkan jalur kedua yaitu Mataram – Gerung – Bandara Internasional Lombok – Sengkol – Desa Sade – Pantai Kuta – Pantai Tanjung Aan – Batu Payung.(Sigit Setyo)

     

Leave a comment

If you want to share your opinion, leave a comment.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

nineteen − 15 =

Info Tour Lombok Chating Via WA