• 2

    Memutah, Tradisi Memotong Padi Warga Lombok

    Salah satu tradisi suku Sasak-Lombok yang kini nyaris punah, adalah tradisi ”Memutah”, sebuah prosesi panen padi perdana yang sarat dengan pesan dan makna, serta kearifan budaya lokal. Seperti apa pelaksanaannya?

    Belum lama ini, Wartawan Enchanting Lombok Sumbawa berkesempatan mengikuti pelaksanaan tradisi Memutah tersebut bersama Risata, salah seorang pemilik sawah warga Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara ketika hendak memanen padinya.

    Tepat pada hari yang telah ditentukan untuk memanen padi yang perdana, susana magis prosesi Memutah sudah mulai terasa. Bersama para pemuda setempat, Risata berangkat ke sawah untuk melakukan tradisi Memutah.

    Selain para pemuda, enam gadis kecil dengan mengenakan pakaian tradisional Lombok jenis kebaya, juga terlihat membawa Ceret (tempat air minum), dan nampak berbaris rapi dibelakang pemilik sawah.

    Sebelum pemotongan padi pertama dilakukan, terlebih dahulu pemilik sawah harus mengambil air wudhu untuk menyucikan diri. Berikutnya salah seorang gadis kecil memberikan Rombong (tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu) kepada Risata, dimana di dalamnya juga terdapat Renggapan atau Rangkap, alat pemotong padi tradisional yang biasa dipakai masyarakat suku Sasak-Lombok pada jaman dahulu.

    Dalam ritual Memutah ini, pemilik sawah diwajibkan menggendong Rombong, layaknya menggendong bayi. Setelah pemilik sawah menyucikan diri dengan berwudhu (menyucikan diri dengan air seperti orang beragama Islam yang hendak Sholat), dia mulai berjalan menuju sawah dengan sebilah Keris (senjata tradisional) nampak terselip di pinggangnya.

    Selama berjalan menuju sawah, Risata dilarang berbicara. Demikian pula masyarakat yang ditemui sepanjang jalan, juga tidak diperbolehkan menegur si pemilik sawah. Proses ini dinamakan Mengacep, yaitu pemilik sawah harus konsentrasi dengan diam membisu, seraya berdoa dalam hati agar panen kali ini lebih baik dari sebelumnya.

    Dalam memotong batang padi yang pertama, juga tidak boleh dilakukan sembarangan, pemotongannya harus dilakukan di Pempon, atau tempat pintu masuk air utama ke sawah tersebut. Karena sebelumnya, di Pempon inilah pemilik sawah menanam padi pertamanya. Dimana lima baris padi pertama dinamakan Inan Pare (ibu padi) dan Aman Pare (bapak padi).

    Sebelum pemotongan Inan Pare dan Aman Pare, pemilik sawah kembali membaca doa yang dilantunkan dalam Bahasa Kawi (bahasa Jawa kuno). Selanjutnya satu persatu ujung padi yang sudah menguning dipotong dengan alat potong padi tradisional.

    Setelah sekitar 15 batang padi dipotong, Inan Pare selanjutnya diikat dengan benang putih yang melambangkan kesucian. Sedangkan 15 batang Aman Pare dipotong dan diikat benang warna hitam yang melambangkan keabadian.

    Proses berikutnya, dua ikat Inan Pare dan Aman Pare itu disatukan dalam Rombong yang digendong tadi, untuk kemudian disimpan di tempat penyimpanan padi atau Lumbung. Biasanya sebelum disimpan, dua ikatan padi itu digantung di Berugak (bangunan tradisional Lombok berbentuk segi empat).

    Menurut salah seorang tokoh masyarakat Tanjung yang memimpin jalannya prosesi Memutah, Datu Artadi, selama prosesi dilakukan, tak boleh ada bulir-bulir dari Inan Pare dan Aman Pare yang terjatuh. ”Meski satu butir yang terjatuh, padi-padi itu harus dikumpulkan. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada padi yang baru dipanen,” jelasnya seraya menyatakan, Inan Pare dan Aman Pare juga tak boleh di konsumsi.(sslelono)

Leave a comment

If you want to share your opinion, leave a comment.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

7 − two =

Info Tour Lombok Chating Via WA