• sukarara 3

    Perempuan Sasak dan Falsafah Tenun Mereka

    Perempuan sasak mengasah ketekunan hidup mereka salah satunya dengan bertenun. Aktifitas yang oleh mereka disebut nyesek tidak hanya untuk menambah penghasilan ekonomi, tetapi menyatu dalam sistem tradisi yang juga menentukan karakter mereka. Seperti apa?

    Masyarakat Lombok pada umumnya adalah masyarakat agraris (pertanian). Sekitar 90 persen masyarakat Lombok memiliki lahan persawahan yang mereka tanami dengan aneka tanam-tanaman seperti padi, jagung dan sayur-sayuran. Dalam perkembangannya,  bertani menjadi sistem budaya yang unik. Setiap pagi akan terlihat para petani bergegas menuju sawah-sawah mereka, terkadang membawa hewan ternak untuk kepentingan membajak sawah dan lain sebagainya. Petani laki menghabiskan waktu mereka di sawah seharian. Jika tiba waktu makan siang, kaum perempuan datang membawakan mereka makanan. Dalam tradisi sasak dikenal dengan istilah memano (mengantar makanan ke sawah).

    Satu lagi tradisi perempuan sasak di sela-sela waktu mereka membantu suami atau kerabat laki-laki yang tengah bekerja di sawah yakni betenun. Jika selama ini masyarakat hanya mengenal beberapa kampung tenun tradisional dengan produk-produk terkenal mereka, sesungguhnya sedikit keliru. Hampir semua kampung memiliki perempuan-perempuan penenun. Sebagian justru tidak terkoordinir menjadi satu kesatuan berupa kelompok penenun. Bertenun, atau nyesek adalah aktifitas membuat kain secara tradisional yang membutuhkan keahlian dan ketekunan.

    Datanglah ke Desa Kebun Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Di desa ini anda memang tidak akan menemukan satupun sentra tenun sebagai penanda bahwa kampung tersebut adalah kampung penenun. Tetapi hampir setiap satu keluarga terdapat satu sampai dua perempuan yang memiliki alat tenun tradisional untuk mengisi kekosongan aktifitas mereka. Di sini, tradisi bertenun telah berlangsung sejak lama.

    Sinayu, misalnya, telah berusia 60 tahun lebih. Namun ia masih begitu telaten menyusun heleai demi helai benang menggunakan alat-alat tenun kunonya. Ada belida, suri (penyaring), gurun, penggolong, sesetek dan tidak lupa gulungan benang di samping kiri kanannya bekerja di sebuah rumah milik cucunya yang hampir jadi. Matanya masih sehat untuk memperhatian jika sewaktu-waktu benang tidak tersusun dengan baik. Sehari ia bisa menghabisan sekitar 4-5 jam untuk nyesek.

    “ Saya bertenun sejak saya masih gadis. Almarhum ibu saya yang mengajarkan. Dia juga dilatih oleh almarhum nenek saya, begitu seterusnya, “ ungkap Sinayu, sambil memainan belida.

    Di Usia senjanya, Sinayu mengaku hanya bisa menghasilkan satu lembar kain seukuran 2-3 meter selama dua minggu, berbeda dengan di usia mudanya yang bisa menghasilkan kain ukuran yang sama hanya dalam waktu kurang dari satu minggu. Cuma karena belajar secara tradisional sejak awal, perempuan banyak cucu ini mengaku tidak bisa membuat kain bermotif seperti yang banyak dijual di pasaran. Kain hasil tenunan Sinayu hanyalah kain polos dengan berbagai macam warna sesuai dengan pesanan. Kain dijual dengan harga 200 ribu hingga 250 ribu rupiah. Sinayu, dan perempuan-perempuan lain di desa ini telah mendapatkan keuntungan ekonomi yang lumayan dari bertenun.

    Taukah anda bahwa bertenun telah ikut menentukan watak dan karakter perempuan sasak?  Perempuan Sasak seperti juga masyarakat sasa pada umumnya, adalah tipikal masyarakat polos, jujur dan ramah. Mungkin saja mereka terpengaruh oleh penamaah suku mereka yakni Sasak yang bermakna Saq Saq Lomboq (hidup lurus, polos, tidak macam-macam). Sikap hidup lurus dan apa adanya membuat mereka lebih fokus pada hal-hal kecil di dekat mereka, tanpa melupakan hal-hal besar yang menjadi target hidup mereka.

    Bertenun membutuhkan kesabaran. Satu lembar kain tidak bisa jadi jika dikerjakan secara tergesa-gesa. Hal ini bisa jadi mempengaruhi perempuan sasak yang dikenal sabar dan tidak tergesa-gesa.Perempuan sasak sejatinya adalah perempuan yang memiliki banyak pertimbangan ketika hendak melakukan apa saja. Dalam memilih pendamping hidup saja mereka tidak ingin gegabah. Mereka mempersilahkan banyak lelaki datang bertamu untuk mengungkapkan isi hati (dalam istilah sasak di sebut midang. Dengan cara demikian perempuan sasak dapat lebih bebas memilih siapa diantara mereka yang layak menjadi pendamping hidup. Begitu pula dengan pola-pola hidup yang lain.

    “ ini bentuk ke-khas-an perempuan sasak,” ungkap Lalu Nasib Ar, salah seorang budayawan sasak.

    Bertenun mengharuskan seorang penenun duduk di satu tempat dalam waktu lama. Posisi duduk tidak berubah, hanya tangan mereka yang sibuk bekerja. Perempuan sasak menengenal istilah rapet pengelampan (pendek perjalanan_red). Istilah ini tidaklah merujuk kepada pengertian bahwa perempuan sasak itu terbelakang dan jarang berfikir maju. Rapet pengelampan adalah gambaran bahwa perempuan sasak mengoptimalkan fungsinya sebagai pengatur rumah tangga. Siapapun yang selama ini dikenal berhasil di dalam hidupnya, toh berangkat dari keluarga yang memiliki manajemen yang baik, dan itu adalah tugas sebagian besar perempuan sasak.

    Tenun modern

    Seiring perkembangan jaman, alat tenun mereka juga mengalami kemajuan seiring dengan semakin populernya karya tenun khas sasak. Beberapa kampung kini terdapat kelompok-kelompok penun menggunakan alat semi modern. Sebut saja kampung gumise, Lombok Desa Giri Tembesi Lombok Barat. Di sini, perempuan sasak menghimpun diri dengan alat bantuan pemerintah daerah. Mereka tentu dapat menghasilkan karya tenun yang lebih bercorak dan massal.

    Aktifitas bertenun menjadi satu-satunya sumber penghasilan tetap perempuan setempat. Hasil Kerajinan Tenun Ikat Gumise sudah lama dijadikan sebagai andalan industri kreatif pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Setiap harinya, ada saja tamu yang datang melihat dari dekat proses penenunan, meski dengan capek menelusuri medan gunung. Gadis perajin tenun Gumise sering diundang mengikuti pameran baik tingkat regional maupun nasional. Kekhasannya terletak pada kreasi perajin yang menjadikan simbol-simbol lokal Lombok sebagai pilihan motif. Ada motif, gerimis, kangkung, lumbung, dan lain sebagainya.

    “ Aktifitas seperti ini sangat membantu ekonomi kami di dusun ini,” ungkap Landri, Ketua kelompok tenun Yayasan Dharma Yasa, Gumise.

    Produksi yang dihasilkan para perajin Gumise sudah lebih dari cukup untuk dikembangkan ke pasar yang besar. Dalam sebulan, produksi yang dihasilkan rata-rata 75 meter dalam satu unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Jika terdapat 13 ATBM, maka kalkulasi produksi bisa mencapai 975 meter.

    Demikianlah, bertenun bagi perempuan sasak tidaklah sebatas menyusun helai benang untuk keperluan ekonomis. Bertenun adalah bagian dari tradisi yang menentukan pola hidup mereka. (Rasinah)

     

Leave a comment

If you want to share your opinion, leave a comment.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

2 + five =

Info Tour Lombok Chating Via WA